Hari ini gue berangkat kantor dengan perasaan sedih. Gue harus menyampaikan kabar bahwa janin di perut tidak berkembang dan harus dikeluarkan. Hhmm tidak bisa dibayangkan reaksi mereka nantinya
Bener aja, setelah gue bilang yang ada mereka kaget banget dan lebih kaget lagi melihat ekspresi gue yang menurut mereka biasa aja. Hello...gue ga mungkin biasa aja, pasti gue sedihlah, cuma gue ga mau sedih lagi untuk cerita ke orang orang, kalo gue sedih yang ada gue nangis lagi, inget lagi. Biarin kesedihan itu gue alamain bersama suami gue aja, gue ga mau orang lain ikutan sedih, gue butuh mereka menghibur gue, bukan malah ikutan sedih.
Mungkin yang membuat gue belum nangis waktu harus cerita ke orang lain adalah, anaknya masih sama gue kok..masih ada di perut gue, walaupun jantungnya udah ga berdetak lagi, tapi gue masih merasakan kalo dia masih menemani gue kemanapun :(
Temen temen di kantor menyarankan gue untuk mencari second opinion, awalnya gue ga mau sih, karena menurut gue, gue harus bisa menemukan dokter dan alat yang lebih canggih dari dokter Alwin dan alat di RSPP yang kemungkinan bakalan bilang kalo mereka menemukan detak jantung anak gue. Setelah cerita sama Erni, dia bilang ada baiknya untuk cari second opinion, at least gue sudah berusaha melakukan yang terbaik buat anak gue, dan dia memberikan nama Dokter Noroyono.
Oke, gue coba googling tentang dokter ini, nampaknya track record si dokter bagus, dan kebetulan gue dapet no telfonnya, jadi gue telfonlah si dokter, Alhamdulillah langsung diangkat, gue cerita masalahnya apa dan dia suruh gue dateng ke Jl. Kimia sore ini jam 3. Oke, nelfon suami dan kebetulan dia juga bisa ijin pulang, akhirnya kita mencoba mencari second opinion di Dokter Noroyono ini.
Begitu gue ketemu dokternya, dia langsung nyuruh gue tiduran untuk di Trasvaginal, "rada sakit ya bu, Bismillah" begitu alat USG masuk dan layar monitor memperlihatkan bentuk anak gue, komentar dokternya adalah "Wah ini sih kromosom bu, emang ga berkembang. Lebih baik dikeluarin aja" Ding !! Padahal gue baru aja ngeliat bentuk anak gue secara sanat jelas, ada kepalanya, 2 tangan dan 2 kaki yang masih kecil. Tapi gue ga dikasih ijin sama Allah untuk melihat dia lebih lama lagi.
Dokter ini menjelaskan bahwa janin gue ga berkembang karena kelainan kromosom, memang cetakan blueprint-nya ga bagus waktu dibuat. Kelainan kromosom itu ga bisa diketahui karena apa, itu adalah alami dari sananya, jadi bukan karena makanan gue yang menurut orang orang ga bergizi baik untuk seorang ibu hamil, atau kerena gue kebanyakan minum teh yang which is teh itu mengandung kafein, atau karena gue kecapean stress and so on and so on... Dokter ini juga menjelaskan kelainan kromosom yang dialami sama anak gue, mengakibatkan adanya jaringan yang menutup kepalanya, bentuk ususnya juga tidak sempurna, dan yang lebih mempertegas bahwa anak ini memang kelaian kromosom adalah ga adanya sel yang berfungsi untuk memberikan makanan. Kalo sel ini ga ada, sudah pasti anak itu menderita kelainan kromosom.
Dokter Noroyono memberikan gue opsi untuk menunggu keluar sendiri, dikeluarkan melalui kuretase atau dikasih obat perangsang. Sebenernya obat perangsang itu juga tidak terlalu disarankan sama dokternya, karena bisa keluar kapan aja, tanpa pemberitauan mules mules dan yang lainnya, jadi gue tinggal punya 2 pilihan. Gue nanya sama dokternya kalo keluar normal, kira kira kapan bakalan keluar? paling lama 3 hari juga keluar katanya...
Pulang kerumah.. ketemu bokap, cerita dikit mengenai pertemuan sama dokternya, dan gue memutuskan masuk kamar. Gue sangat butuh ruang privasi dimana gue bebas melakukan apa saja, termasuk nangis puas sampai akhirnya gue tertidur.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar